Tampilkan postingan dengan label sajakansaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajakansaja. Tampilkan semua postingan

Angin Punggungan

Semburat cahaya melewati ranting-ranting,
siang belum juga terik, namun nafasku satu-satu tertarik.
Setapak berbaris jauh kedepan, menyembunyikan belokan sebelum turunan,
dan diselanya pohon tua tidur nyaman, tumbang.
Air panas menceritakan uap-uap tentang aroma belerang,
agar siapapun yang melewatinya bisa melihat batas jurang.
Puncak masih jauh, tapi paru-paruku mulai melenguh,
dan sesekali mengepulkan asap, tembakau.
Dedaunan jatuh tertiup angin, walaupun daun tak mengajak hatimu.
Dan sampailah pada titik puncak,
dimana harapan mengalir dan doa terurai.
Ikut pergi bersama kabut yang berlalu,
lalu pulang sendirian.
Untuk edelweiss yang berkuncup segar, dan semua tentangmu yang belum juga layu.
Dan untuk senyum bapak yang terkembang, melajukan perahu ceritanya kepada murid-muridnya.

Gede-Pangrango, 3 Juni 2012

Lebih Dahulu


bukan sementara yang memisahkan,
melainkan tautan angka berbeda barisan.
satu jam lebih dahulu di tempatmu.

putaran senja belum segera beranjak,
menunggumu untuk bersenandung tentang tenang.
malam mengajakmu duduk di sampingku.

aku berangkat dan belum sepenuhnya terbang,
memelukmu ringan sebelum beranjak pulang.
aku memutar alunan riangmu di otakku.

____________________________________________________________________

bersegeralah melipat jarak,
entah aku atau kamu terlebih dahulu.

petang


aku mendapati biru di ujung bekas, kamu terlampau keras.
entah sampai kapan kita mencari pagi yang orang bilang terang.
mungkin kita lupa pernah sepakat, pagi adalah malam yang tergesa-gesa pergi.
meninggalkan kita yang jujur dalam gelapnya, mengacuhkan kita yang sedang nikmat bertukar rasa,
dan mengabaikan kita yang lupa akan angka-angka.
hingga matahari memaksa untuk sekali lagi berlari.

dan aku senang petang datang. berbaring memelukmu tenang.